Selasa, 03 Juni 2014

Tears Inside Rain (PART 2)




Note : Anggap umur Luhan dan Yoojung hanya selisih 1 tahun.
“Luhaan, ayo cepat nanti kau bisa terlambat. Sarapannya sudah siap.” Teriak eomma dari ruang makan.
            Sedangkan Luhan masih duduk bermalas-malasan di kamarnya. Ia tak bisa berhenti membayangkan hari ini adalah hari terburuk dalam hidupnya. Ya, satu sekolah dengan adiknya. Tapi apa daya eomma nya pasti akan selalu memarahinya jika kali ini dia membantah lagi.
            Luhan berjalan ke meja makan dengan langkah tak semangat. “Ayolah, sayang. Ini hari pertamamu sekolah setelah libur panjang.” Ujar eomma. “Lebih baik libur sekolah, dibandingkan di hari pertamaku sekolah ada Yoojung.”. “Lagi-lagi kau berkata seperti itu. Kapan kau bisa berubah Luhan-ah?” tanya eomma. “Sampai appa bisa kembali duduk di sini.” Luhan langsung pergi ke mobil tanpa menyelesaikan sarapannya.
            Sementara itu, Yoojung baru saja turun bersama ahjumma. “Loh, oppa ke mana eomma?”. “Dia sudah masuk mobil duluan.”kata eomma sambil mengoleskan butter ke roti Yoojung. “Pasti gara-gara aku akan masuk sekolah yang sama dengannya.” Yoojung sudah tau jawabannya.
“Biarkan saja. Nanti ia akan terbiasa sendiri.” Ujar eomma enteng.
“Tapi eomma, aku tidak enakan kalau seperti ini terus. Sampai kapanpun, oppa pasti akan sulit untuk bersamaku.” Kata Yoojung.
“Lakukan saja seperti air mengalir, sayang.”eomma menyemangati Yoojung.
           
Luhan Pov’s

            Akhirnya aku sampai di sekolah. Benar-benar sungguh menyebalkan harus pergi sekolah dengan dia.
“Hey, Yoojung-ah. Kau harus ingat, jangan pernah mengaku sebagai adikku. Dan jika kau bertemu aku, anggap saja kita tidak pernah kenal. Awas kau.” Ancamku kepadanya.
            Aku sangat benci, sangat..sangatt benci dengannya. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaannya yang seperti itu. Apa enaknya hidup seperti itu, dia juga sangat bodoh kenapa mau melakukan semua itu dan semuanya hanya membuat hidup keluarga ini tidak seperti dulu lagi.
“Hey, Luhan hyung muka mu terlihat seperti aspal jalanan. Datar, tak berekspresi.” Baekhyun datang mengampiriku.
“ah, aku tidak semangat sekolah hari ini.” Aku tak akan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Tenang hyung. Hari ini pasti akan banyak anak baru yang cantik-cantik hyung.” Ujar Baekhyun sambil mengeluarkan sisir andalannya.
“Eyeliner mu mana?” tanyaku.
“Ah, itu tidak jaman lagi untukku hyung. Para yeoja menyukai pria yang natural. Sekarang aku hanya butuh sisir.” Kata Baekhyun.
“Kau saja yang baru tahu. Memang jamanmu berbeda dengan manusia lainnya.” Aku sedikit tertawa melihatnya.
“Hai..lalalala~ akhirnya kau datang juga, Ge. Aku sudah sejak tadi mencarimu.” Seperti biasa Jinri selalu datang dengan senyum super anehnya itu.
“Ya, mencariku untuk dua kemungkinan. Pertama, memintaku mengerjakan tugas matematikamu dan yang kedua, memintaku untuk membelikanmu makanan di kantin.” Aku sudah tahu itu sejak lama.
            Aku dan Jinri sudah hampir 5 tahun bersahabat. Dia sahabat yang baik walaupun umurku jauh lebih tua dibandingkan dengannya. Dan selama itu pula, dia tidak pernah tahu aku punya adik. Aku selalu bilang padanya, bahwa aku hanya anak tunggal. Ia sering main ke rumahku. Tapi aku selalu melarang Yoojung untuk berkeliaran selama Jinri datang.
“Ah, gege tahu saja. Kajja kita ke kantin.” Katanya sambil merangkul bahuku.
“Ya ya...lalu aku bagaimana?” tanya Baekhyun dengan wajah memelas.
“Sudahlah, wajahmu tak akan membantu oppa. Kalau mau ikut, bayar sendiri.” Ujar Jinri.
“Sialan kau. Awas saja kau.” Baekhyun mulai mengejar Jinri. Entah sampai kapan mereka selalu begitu. Mereka jarang sekali akur.
            Setidaknya kehadiran teman-temanku membantuku menghilangkan kepenatanku memikirkan hari ini yang tidak ada habisnya.

Yoojung Pov’s

            “Hey, Yoojung-ah. Kau harus ingat, jangan pernah mengaku sebagai adikku. Dan jika kau bertemu aku, anggap saja kita tidak pernah kenal. Awas kau.” Itu yang dikatakannya pertama kali saat kami tiba di sekolah.    
            Bagaimana bisa aku hidup dan belajar dengan nyaman jika seperti ini. Menganggap tidak pernah kenal? Yang benar saja. Selama 17 tahunku hidup, aku selalu melihatnya, hidup serumah dengannya, dicaci maki olehnya. Mudah sekali sepertinya oppa hanya bilang seperti itu dihadapanku. Bahkan entah kapan aku bisa mendengarnya memanggilku dongsaeng. Apakah benar yang dikatakan orang-orang bahwa hidup itu tidak adil?
            Ternyata kelas yang akan kutempati berada di lantai dua. Disini tidak ada lift, hanya ada tangga. Untung saja ahjumma mau membantuku untuk naik. Sedih sekali memang, menaiki tangga saja menyusahkan orang lain.
“Yoojung-ah, ahjumma hanya bisa mengantar sampai sini. Oh iya, kalau tidak salah kelasmu yang paling ujung sana. Hati-hati ya.” Kata Ahjumma.
“Nde, ahjumma. Jeongmal gomawoyo. Kalau tidak ada ahjumma, mungkin akan susah bagiku naik kesini. Mianhae sudah menyusahkanmu.”,
“Ah, gwenchanayo. Ahjumma tinggal dulu ya. Annyeong.” Ujar ahjumma seraya meninggalkanku.
            Disini sungguh ramai sekali. Aku berusaha untuk mencari dimana kelasku. Ini dia, aku menemukannya. XI 1A. Aku memberanikan diri untuk masuk dan mencari tempat kosong.
“Annyeong, apa kau anak baru?” tanya seorang yeoja berambut pendek.
“Oh, ne. Apa bangku disebelahmu kosong?” ,
“Oh silahkan saja. Aku akan menggeserkan kursinya.” Katanya.
“Annyeong, Yoojung imnida.”Sapaku.
“Naeun imnida. Kau tidak terlihat sehat, Yoojung-ah.” Ujarnya.
“Jinjja? Ah, mungkin karena semalam aku susah tidur.” Aku berbohong padanya.
“Hey, lihat lah ada anak baru di kelas kita. Oh dan yang lebih mengejutkan lagi, dia ternyata lumpuh. Wah, kasihan sekali.” Seorang yeoja bermulut pedas itu tiba-tiba datang dengan segerombol temannya.
“Jaga mulutmu, Krystal-ah. Kau harus bersikap baik dengannya, bagaimanapun ia teman sekelas kita sekarang.” Naeun berusaha membelaku.
“Diam kau, pesek. Kau tidak berhak membela orang lain yang bahkan kau belum begitu kenal.” Kata yeoja yang bernama Krystal itu.
“Lalu kenapa jika aku lumpuh?” tanyaku padanya.
“Itu pasti hal yang sulit bagi anak lumpuh sepertimu bisa masuk sekolah ternama seperti ini. Kau membayar mahal para guru disini hah?” Yang benar saja ia mengatakan hal seperti itu kepadaku.
“Tentu saja nilai raportku berbeda dengan nilai raport anak tak tahu sopan santun sepertimu.” Emosiku mulai muncul.
“Kau..beraninya mengatai aku seperti itu. Dasar cacat..”, belum selesai krystal menyambung kata-katanya , tiba-tiba..
“Mulutmu tidak jauh berbeda dengan cacat, Krystal-ah.” Namja berwibawa itu langsung duduk di bangkunya.
“Kya..Suho oppa. Kau ini apa-apaan.” Gerutunya.
“Kau yang apa-apaan. Lebih baik kau duduk, karena Lee seonsaengnim sebentar lagi akan datang.” Ujar namja itu santai.
            Sungguh melelahkan sekali hidup dalam keadaan seperti ini, tapi aku tidak akan menyerah. Aku tahu Tuhan punya cerita tersendiri untukku, yang mungkin jauh lebih indah dari cerita mereka semua yang memiliki kesempurnaan fisik.
            Bel istirahat pun berbunyi, aku sangat ingin makan sebenarnya. Tapi mengingat jalan yang tidak memungkinkanku untuk menuju kantin seperti yang lainnya.
“Hmm..” suara deheman itu mengejutkan lamunanku seketika.
“Kau tidak ingin ke kantin?” tanya asal suara itu yang ternyata namja yang menolongku tadi pagi.
“Ya, sebenarnya ingin sekali. Tapi kau bisa lihat sendiri kan keadaanku.” Aku yakin ia mengerti apa yang kumaksud.
“Lalu kenapa?”,
“Tentu saja akan sulit bagiku untuk melalui tangga itu.” Ujarku.
“Kau bahkan belum mencoba berbagai cara untuk turun.” Ada saja yang dijawab oleh namja itu.
“hah?” aku masih bingung.
“Ikuti saja aku.” Ujarnya sambil mendorong kursi dorongku.
“Oh ya,gomawoyo sudah menolongku tadi. Namaku Yoojung.” Aku berterima kasih padanya atas pertolongannya tadi pagi.
“ne gwenchana. Yeoja itu memang gila. Jangan dengar dia. Panggil aku Suho” Katanya.
“Tenang saja, aku sudah sering mendengar kata-kata seperti itu di rumah.”,
“Siapa yang melakukannya? Eonni-mu? Oppa-mu?” tanya namja bernama Suho.
“Hmmm...ah ani. Anak tetangga sebelah rumahku yang bilang begitu.” Bodohnya aku, hampir saja aku, membongkar statusku. Hufft.. Susah sekali.
“Wah, jahat sekali anak tetanggamu itu.”,
“Dia masih kecil kok.”,
“Cukup ceritanya, sekarang kau naik ke punggungku.” Katanya sambil membungkukkan badannya di depanku.
“Mwo??” aku terkejut.
“Waeyo? Kau mau turun kan? Ayolah.” Dia berusaha meyakinkanku.
“Aku susah menggerakkan kakiku.”,
“Condongkan saja badanmu seolah-olah jatuh ke punggungku.” Dia masih berusaha menyuruhku untuk menaiki punggungnya.
“Arasseo.” Aku mencoba menggerakkan badanku ke arahnya, dan nyaris saja aku jatuh. Untung saja dia sigap menahanku dengan tangannya yang kuat itu.
“Sekarang, pegangan yang erat di leherku. Tenang saja, aku tidak akan mati tercekik.”,
            Kami tertawa bersama. Di dalam pikiranku saat ini adalah, andaikan oppaku yang melakukan itu. Setelah sampai di bawah, ia menurunkanku di anak tangga, dan ia kembali naik ke atas mengambil kursi rodaku.
“Kajja, kita ke kantin.” Ajaknya seraya mendorong kursi penopang tubuhku ini ke kantin.

Author Pov’s

            “Hei, itu suho.” Seru Xiumin dengan mulut yang berisi penuh oleh ramen.
“Dengan siapa dia?” tanya Sehun yang memperhatikan Suho tidak datang sendiri.
“Wah, baru hari pertama sekolah. Dia sudah mendapatkan yeoja secantik itu.” Ujar Tao sambil terkagum-kagum.
“Tapi, ada yang kurang darinya. Sayangnya dia lumpuh.” Mata D.O membulat sempurna.
            Luhan yang mendengar perkataan D.O yang terakhir itu langsung menoleh ke arah Suho. Dan benar saja apa yang terpikirkan oleh Luhan. Yoojung tengah bersama Suho.
            Sialan. Gumam Luhan dalam hati. Luhan segera memalingkan wajahnya dan segera melahap ramen dihadapannya.
“Woh, Suho hyung bagaimana bisa kau mendapatkan yeoja secepat itu?” Tao bertepuk tangan saking kagumnya.
“Tao-ah, dia bukan yeojachingu-ku. Dia anak baru. Kenalkan namanya Yoojung.” Kata Suho memperkenalkan yeoja dihadapannya.
“Annyeong..” sapa Yoojung.
“Wah, dia cantik sekali.” Goda Kai.
“Luhan hyung, bukankah kau punya pikiran yang sama denganku kan?” tanya kai kepada Luhan.
“Hmm..aa..ku permisi ke toilet dulu.” Tiba-tiba Luhan langsung tersedak, dan sengaja meninggalkan mereka semua.
“Kenapa dia?” tanya Xiumin.
“Entahlah, dia aneh sekali.” Ujar Sehun.
***
Yoojung Pov’s

            Sudah 3 bulan aku berada di sekolah ini. Ada yang membenciku dan ada juga mereka yang mengerti keadaanku. Krystal dan geng nya masih membenciku, bahkan semakin parah. Tapi selalu ada mereka di sisiku saat aku sedih. Ya, benar. Suho, Xiumin oppa, D.O, Baekhyun, Tao, Sehun dan Kai. Tapi tetap saja aku tidak bisa bertahan dalam situasi seperti ini, rasanya aku ingin pergi jauh-jauh dari mereka yang aku kenal. Dan menemukan kehidupan baru dimana aku bisa menemukan orang-orang yang bisa berjalan disisiku tanpa harus mempertimbangkan keadaanku.
            “eomma, aku ingin pindah.” Aku memberanikan diri untuk mengatakannya kepada eomma.
“Waeyo sayang?” tanya eomma.
“Aku tidak sanggup lagi untuk tinggal di kehidupan seperti ini. Aku ingin keluar negeri saja.”,
“Tapi eomma justru takut melepaskanmu, dan disana mungkin lebih berbahaya.” Eomma mencemaskanku.
“Aku akan ajak ahjumma bersamaku.”ujarku.
***

Akankah Yoojung diberikan izin meninggalkan Korea? Apa reaksi oppa-nya? Akankah ia kembali ke korea dan berharap oppa-nya bisa menerimanya kembali?

-To Be Continue-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar