Note : Anggap umur Luhan dan
Yoojung hanya selisih 1 tahun.
“Luhaan,
ayo cepat nanti kau bisa terlambat. Sarapannya sudah siap.” Teriak eomma dari
ruang makan.
Sedangkan Luhan masih duduk
bermalas-malasan di kamarnya. Ia tak bisa berhenti membayangkan hari ini adalah
hari terburuk dalam hidupnya. Ya, satu sekolah dengan adiknya. Tapi apa daya
eomma nya pasti akan selalu memarahinya jika kali ini dia membantah lagi.
Luhan berjalan ke meja makan dengan
langkah tak semangat. “Ayolah, sayang. Ini hari pertamamu sekolah setelah libur
panjang.” Ujar eomma. “Lebih baik libur sekolah, dibandingkan di hari pertamaku
sekolah ada Yoojung.”. “Lagi-lagi kau berkata seperti itu. Kapan kau bisa
berubah Luhan-ah?” tanya eomma. “Sampai appa bisa kembali duduk di sini.” Luhan
langsung pergi ke mobil tanpa menyelesaikan sarapannya.
Sementara itu, Yoojung baru saja
turun bersama ahjumma. “Loh, oppa ke mana eomma?”. “Dia sudah masuk mobil
duluan.”kata eomma sambil mengoleskan butter ke roti Yoojung. “Pasti gara-gara
aku akan masuk sekolah yang sama dengannya.” Yoojung sudah tau jawabannya.
“Biarkan
saja. Nanti ia akan terbiasa sendiri.” Ujar eomma enteng.
“Tapi
eomma, aku tidak enakan kalau seperti ini terus. Sampai kapanpun, oppa pasti
akan sulit untuk bersamaku.” Kata Yoojung.
“Lakukan
saja seperti air mengalir, sayang.”eomma menyemangati Yoojung.
Luhan Pov’s
Akhirnya aku sampai di sekolah.
Benar-benar sungguh menyebalkan harus pergi sekolah dengan dia.
“Hey,
Yoojung-ah. Kau harus ingat, jangan pernah mengaku sebagai adikku. Dan jika kau
bertemu aku, anggap saja kita tidak pernah kenal. Awas kau.” Ancamku kepadanya.
Aku sangat benci, sangat..sangatt
benci dengannya. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaannya yang seperti itu. Apa
enaknya hidup seperti itu, dia juga sangat bodoh kenapa mau melakukan semua itu
dan semuanya hanya membuat hidup keluarga ini tidak seperti dulu lagi.
“Hey,
Luhan hyung muka mu terlihat seperti aspal jalanan. Datar, tak berekspresi.”
Baekhyun datang mengampiriku.
“ah,
aku tidak semangat sekolah hari ini.” Aku tak akan memberitahu apa yang
sebenarnya terjadi.
“Tenang
hyung. Hari ini pasti akan banyak anak baru yang cantik-cantik hyung.” Ujar
Baekhyun sambil mengeluarkan sisir andalannya.
“Eyeliner
mu mana?” tanyaku.
“Ah,
itu tidak jaman lagi untukku hyung. Para yeoja menyukai pria yang natural.
Sekarang aku hanya butuh sisir.” Kata Baekhyun.
“Kau
saja yang baru tahu. Memang jamanmu berbeda dengan manusia lainnya.” Aku
sedikit tertawa melihatnya.
“Hai..lalalala~
akhirnya kau datang juga, Ge. Aku sudah sejak tadi mencarimu.” Seperti biasa
Jinri selalu datang dengan senyum super anehnya itu.
“Ya,
mencariku untuk dua kemungkinan. Pertama, memintaku mengerjakan tugas
matematikamu dan yang kedua, memintaku untuk membelikanmu makanan di kantin.”
Aku sudah tahu itu sejak lama.
Aku dan Jinri sudah hampir 5 tahun
bersahabat. Dia sahabat yang baik walaupun umurku jauh lebih tua dibandingkan
dengannya. Dan selama itu pula, dia tidak pernah tahu aku punya adik. Aku
selalu bilang padanya, bahwa aku hanya anak tunggal. Ia sering main ke rumahku.
Tapi aku selalu melarang Yoojung untuk berkeliaran selama Jinri datang.
“Ah,
gege tahu saja. Kajja kita ke kantin.” Katanya sambil merangkul bahuku.
“Ya
ya...lalu aku bagaimana?” tanya Baekhyun dengan wajah memelas.
“Sudahlah,
wajahmu tak akan membantu oppa. Kalau mau ikut, bayar sendiri.” Ujar Jinri.
“Sialan
kau. Awas saja kau.” Baekhyun mulai mengejar Jinri. Entah sampai kapan mereka
selalu begitu. Mereka jarang sekali akur.
Setidaknya kehadiran teman-temanku
membantuku menghilangkan kepenatanku memikirkan hari ini yang tidak ada
habisnya.
Yoojung Pov’s
“Hey, Yoojung-ah. Kau harus ingat,
jangan pernah mengaku sebagai adikku. Dan jika kau bertemu aku, anggap saja
kita tidak pernah kenal. Awas kau.” Itu yang dikatakannya pertama kali saat
kami tiba di sekolah.
Bagaimana bisa aku hidup dan belajar
dengan nyaman jika seperti ini. Menganggap tidak pernah kenal? Yang benar saja.
Selama 17 tahunku hidup, aku selalu melihatnya, hidup serumah dengannya, dicaci
maki olehnya. Mudah sekali sepertinya oppa hanya bilang seperti itu
dihadapanku. Bahkan entah kapan aku bisa mendengarnya memanggilku dongsaeng.
Apakah benar yang dikatakan orang-orang bahwa hidup itu tidak adil?
Ternyata kelas yang akan kutempati
berada di lantai dua. Disini tidak ada lift, hanya ada tangga. Untung saja
ahjumma mau membantuku untuk naik. Sedih sekali memang, menaiki tangga saja
menyusahkan orang lain.
“Yoojung-ah,
ahjumma hanya bisa mengantar sampai sini. Oh iya, kalau tidak salah kelasmu
yang paling ujung sana. Hati-hati ya.” Kata Ahjumma.
“Nde,
ahjumma. Jeongmal gomawoyo. Kalau tidak ada ahjumma, mungkin akan susah bagiku
naik kesini. Mianhae sudah menyusahkanmu.”,
“Ah,
gwenchanayo. Ahjumma tinggal dulu ya. Annyeong.” Ujar ahjumma seraya
meninggalkanku.
Disini sungguh ramai sekali. Aku
berusaha untuk mencari dimana kelasku. Ini dia, aku menemukannya. XI 1A. Aku
memberanikan diri untuk masuk dan mencari tempat kosong.
“Annyeong,
apa kau anak baru?” tanya seorang yeoja berambut pendek.
“Oh,
ne. Apa bangku disebelahmu kosong?” ,
“Oh
silahkan saja. Aku akan menggeserkan kursinya.” Katanya.
“Annyeong,
Yoojung imnida.”Sapaku.
“Naeun
imnida. Kau tidak terlihat sehat, Yoojung-ah.” Ujarnya.
“Jinjja?
Ah, mungkin karena semalam aku susah tidur.” Aku berbohong padanya.
“Hey,
lihat lah ada anak baru di kelas kita. Oh dan yang lebih mengejutkan lagi, dia
ternyata lumpuh. Wah, kasihan sekali.” Seorang yeoja bermulut pedas itu
tiba-tiba datang dengan segerombol temannya.
“Jaga
mulutmu, Krystal-ah. Kau harus bersikap baik dengannya, bagaimanapun ia teman
sekelas kita sekarang.” Naeun berusaha membelaku.
“Diam
kau, pesek. Kau tidak berhak membela orang lain yang bahkan kau belum begitu
kenal.” Kata yeoja yang bernama Krystal itu.
“Lalu
kenapa jika aku lumpuh?” tanyaku padanya.
“Itu
pasti hal yang sulit bagi anak lumpuh sepertimu bisa masuk sekolah ternama
seperti ini. Kau membayar mahal para guru disini hah?” Yang benar saja ia
mengatakan hal seperti itu kepadaku.
“Tentu
saja nilai raportku berbeda dengan nilai raport anak tak tahu sopan santun
sepertimu.” Emosiku mulai muncul.
“Kau..beraninya
mengatai aku seperti itu. Dasar cacat..”, belum selesai krystal menyambung
kata-katanya , tiba-tiba..
“Mulutmu
tidak jauh berbeda dengan cacat, Krystal-ah.” Namja berwibawa itu langsung
duduk di bangkunya.
“Kya..Suho
oppa. Kau ini apa-apaan.” Gerutunya.
“Kau
yang apa-apaan. Lebih baik kau duduk, karena Lee seonsaengnim sebentar lagi
akan datang.” Ujar namja itu santai.
Sungguh melelahkan sekali hidup
dalam keadaan seperti ini, tapi aku tidak akan menyerah. Aku tahu Tuhan punya
cerita tersendiri untukku, yang mungkin jauh lebih indah dari cerita mereka
semua yang memiliki kesempurnaan fisik.
Bel istirahat pun berbunyi, aku
sangat ingin makan sebenarnya. Tapi mengingat jalan yang tidak memungkinkanku
untuk menuju kantin seperti yang lainnya.
“Hmm..”
suara deheman itu mengejutkan lamunanku seketika.
“Kau
tidak ingin ke kantin?” tanya asal suara itu yang ternyata namja yang
menolongku tadi pagi.
“Ya,
sebenarnya ingin sekali. Tapi kau bisa lihat sendiri kan keadaanku.” Aku yakin
ia mengerti apa yang kumaksud.
“Lalu
kenapa?”,
“Tentu
saja akan sulit bagiku untuk melalui tangga itu.” Ujarku.
“Kau
bahkan belum mencoba berbagai cara untuk turun.” Ada saja yang dijawab oleh
namja itu.
“hah?”
aku masih bingung.
“Ikuti
saja aku.” Ujarnya sambil mendorong kursi dorongku.
“Oh
ya,gomawoyo sudah menolongku tadi. Namaku Yoojung.” Aku berterima kasih padanya
atas pertolongannya tadi pagi.
“ne
gwenchana. Yeoja itu memang gila. Jangan dengar dia. Panggil aku Suho” Katanya.
“Tenang
saja, aku sudah sering mendengar kata-kata seperti itu di rumah.”,
“Siapa
yang melakukannya? Eonni-mu? Oppa-mu?” tanya namja bernama Suho.
“Hmmm...ah
ani. Anak tetangga sebelah rumahku yang bilang begitu.” Bodohnya aku, hampir
saja aku, membongkar statusku. Hufft.. Susah sekali.
“Wah,
jahat sekali anak tetanggamu itu.”,
“Dia
masih kecil kok.”,
“Cukup
ceritanya, sekarang kau naik ke punggungku.” Katanya sambil membungkukkan
badannya di depanku.
“Mwo??”
aku terkejut.
“Waeyo?
Kau mau turun kan? Ayolah.” Dia berusaha meyakinkanku.
“Aku
susah menggerakkan kakiku.”,
“Condongkan
saja badanmu seolah-olah jatuh ke punggungku.” Dia masih berusaha menyuruhku
untuk menaiki punggungnya.
“Arasseo.”
Aku mencoba menggerakkan badanku ke arahnya, dan nyaris saja aku jatuh. Untung
saja dia sigap menahanku dengan tangannya yang kuat itu.
“Sekarang,
pegangan yang erat di leherku. Tenang saja, aku tidak akan mati tercekik.”,
Kami tertawa bersama. Di dalam
pikiranku saat ini adalah, andaikan oppaku yang melakukan itu. Setelah sampai
di bawah, ia menurunkanku di anak tangga, dan ia kembali naik ke atas mengambil
kursi rodaku.
“Kajja,
kita ke kantin.” Ajaknya seraya mendorong kursi penopang tubuhku ini ke kantin.
Author Pov’s
“Hei, itu suho.” Seru Xiumin dengan
mulut yang berisi penuh oleh ramen.
“Dengan
siapa dia?” tanya Sehun yang memperhatikan Suho tidak datang sendiri.
“Wah,
baru hari pertama sekolah. Dia sudah mendapatkan yeoja secantik itu.” Ujar Tao
sambil terkagum-kagum.
“Tapi,
ada yang kurang darinya. Sayangnya dia lumpuh.” Mata D.O membulat sempurna.
Luhan yang mendengar perkataan D.O
yang terakhir itu langsung menoleh ke arah Suho. Dan benar saja apa yang
terpikirkan oleh Luhan. Yoojung tengah bersama Suho.
Sialan.
Gumam Luhan dalam hati. Luhan segera memalingkan wajahnya dan segera melahap
ramen dihadapannya.
“Woh,
Suho hyung bagaimana bisa kau mendapatkan yeoja secepat itu?” Tao bertepuk
tangan saking kagumnya.
“Tao-ah,
dia bukan yeojachingu-ku. Dia anak baru. Kenalkan namanya Yoojung.” Kata Suho
memperkenalkan yeoja dihadapannya.
“Annyeong..”
sapa Yoojung.
“Wah,
dia cantik sekali.” Goda Kai.
“Luhan
hyung, bukankah kau punya pikiran yang sama denganku kan?” tanya kai kepada
Luhan.
“Hmm..aa..ku
permisi ke toilet dulu.” Tiba-tiba Luhan langsung tersedak, dan sengaja
meninggalkan mereka semua.
“Kenapa
dia?” tanya Xiumin.
“Entahlah,
dia aneh sekali.” Ujar Sehun.
***
Yoojung Pov’s
Sudah 3 bulan aku berada di sekolah
ini. Ada yang membenciku dan ada juga mereka yang mengerti keadaanku. Krystal
dan geng nya masih membenciku, bahkan semakin parah. Tapi selalu ada mereka di
sisiku saat aku sedih. Ya, benar. Suho, Xiumin oppa, D.O, Baekhyun, Tao, Sehun
dan Kai. Tapi tetap saja aku tidak bisa bertahan dalam situasi seperti ini,
rasanya aku ingin pergi jauh-jauh dari mereka yang aku kenal. Dan menemukan
kehidupan baru dimana aku bisa menemukan orang-orang yang bisa berjalan
disisiku tanpa harus mempertimbangkan keadaanku.
“eomma, aku ingin pindah.” Aku
memberanikan diri untuk mengatakannya kepada eomma.
“Waeyo
sayang?” tanya eomma.
“Aku
tidak sanggup lagi untuk tinggal di kehidupan seperti ini. Aku ingin keluar
negeri saja.”,
“Tapi
eomma justru takut melepaskanmu, dan disana mungkin lebih berbahaya.” Eomma
mencemaskanku.
“Aku
akan ajak ahjumma bersamaku.”ujarku.
***
Akankah Yoojung diberikan izin
meninggalkan Korea? Apa reaksi oppa-nya? Akankah ia kembali ke korea dan
berharap oppa-nya bisa menerimanya kembali?
-To Be Continue-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar