Setetes
Memori
Kenzo masih sibuk memutar-mutar
lensa kameranya. Mengambil foto setiap orang yang lewat di hadapannya. Ya, hari
ini adalah hari pertama masa orientasi siswa-siswi baru di SMA Harapan Bangsa.
Kenzo sebagai senior di sekolah itu kebetulan mendapat tugas di bidang
dokumentasi. Karena memang itulah hobinya sejak kecil. Selain itu, ia juga
sudah sering mengikuti kontes fotografi nasional dan tak perlu diragukan lagi
hasil dari jepretan tangannya itu.
Kaki Kenzo tertarik untuk mendatangi
kelompok kepedulian sosial yang sejak tadi sudah mengemas barang-barang yang
akan disalurkan untuk korban banjir. Matanya mulai fokus mencermati objek yang
akan ia foto. Secara tak sengaja, ia memotret seorang perempuan dengan rambut
dikepang dua sedang mengangkat kardus-kardus berisi pakaian. Dia terlihat cantik. Gumam Kenzo dalam
hati. “Hei, bro. Lagi ngapain lo?” Choki mengejutkan lamunan Kenzo. “Ah,
nothing. Biasa lagi jepretin muka anak orang. Kamu sendiri ngapain disini?”
Tanya Kenzo. “Ya, liatin cewek gue lah.” Ujar Choki. “Cuma diliatin aja? Nggak
dibantuin? Mukanya udah hampir bisa dibilang ancur tuh gara-gara ngangkat
kardus indomie.” Kenzo tertawa sambil menunjuk Erica pacarnya si Choki. “Ya
ampun pacaar guee..” Choki segera berlari membantu pacarnya itu. Saat Kenzo
ingin melihat perempuan yang ia foto tadi, ternyata dia sudah tidak ada di
tempat semula. Ah sial, kan hilang tuh
cewek. Gerutu Kenzo dalam hati.
Saat hari pertama orientasi
berakhir, Kenzo langsung menuju parkiran dan memutar setirnya menuju rumah.
Namun, saat berada di depan gerbang sekolah, ia mendapati perempuan yang ia
cari tadi. “Hai, mau pulang bareng aku?” ajak Kenzo. “Ah, tidak usah, Kak. Aku
naik bus aja.” Ujar perempuan yang tak diketahui namanya itu. “Ayolah, sebentar
lagi akan turun hujan. Biarlah aku antar. Aku tidak keberatan. Lagipula tidak
baik menolak ajakan kakak senior.”ajak Kenzo sekali lagi. “Baiklah kalau
begitu.” Akhirnya perempuan itu masuk ke mobil Kenzo. “Namamu siapa kalau boleh
tahu?”Kenzo mulai kepo akan asal usul perempuan itu. “Kenzia kak.”jawab
perempuan itu. “Namamu tidak jauh beda denganku. Kenalkan aku Kenzo. Aku senior
dari kelas XI.IPA 2.” Kenzo berjabat tangan dengan Kenzia. “Oh, ya kamu mau aku
antarin ke mana ini?” Kenzo baru teringat bahwa ia mau mengantar Kenzia pulang.
“Oh, rumahku di jalan Kartini no 20.” Jawab Kenzia. “Kulihat kamu aktif sekali
di kelompok orientasi kamu. Sampe ngangkat-ngangkat kardus segala.
Hahaha.”Kenzo teringat akan foto Kenzia yang ia ambil tadi siang. “Ya, aku
beruntung sekali bisa masuk kelompok itu. Karena itu memang bidangku. Aku suka
membantu sesama.” Ujarnya dengan menggoreskan senyum di bibirnya. “Oh ya? Bagus
dong. Itu rencananya mau dikasih ke korban daerah mana?” Kenzo semakin tertarik
untuk berbicara dengan Kenzia. “Di daerah Kebayoran, Kak.”. “Kamu nggak usah
manggil aku kakak. Panggil aja Kenzo.” Kenzo merasa tidak nyaman dipanggil
kakak terus-terusan. “Oh begitu. Tapi kamu seniorku.”. “Aku bilang, panggil
saja Kenzo.” Kenzo menekankan kata-katanya kembali. “Eh, itu rumahku, Zo.” Kata
Kenzia sambil menunjuk rumah warna hijau penuh tanaman hias di halamannya.
“Makasih ya. Udah ngantarin.” Ujarnya sambil tersenyum ke arah Kenzo. “Oke. No
problem.”. “Eh, Zo. Mau ikut aku besok nggak?” Tiba-tiba Kenzia berjalan balik
ke arah Kenzo. “Kemana? Ke daerah banjir? Ah sorry deh. Ga ikutan.” Kenzo
langsung menolak begitu saja tanpa mengetahui kemana mereka akan pergi. “Bukan lah. Siapa juga yang mau ke sana?
Besok kamu tahu sendiri deh.” Kenzia tersenyum sinis sambil mengedipkan
matanya. “Besok aku jemput jam 8 pagi ya. Bye.” Mobil Kenzo berbelok perlahan
meninggalkan kediaman Kenzia.
Kenzia
mau ngajakin aku kemana? Hati Kenzo dipenuhi seribu pertanyaan dengan tanda
tanya besar. Kenzo lupa bahwa besok hari minggu dan ia biasanya akan bangun
siang dan ia juga tidak sempat meminta nomor handphone Kenzia.
Keesokan harinya, Kenzia bangun
sangat pagi. Disibakkan tirai bermotif rillakuma itu dan cahaya matahari
menyinari wajahnya yang kusut itu. Dilihatnya jam yang tertempel di dinding
kamarnya itu. Pukul 06.45. Masih 1 jam
lagi. Pikir Kenzia. Kenzia berjalan menyusuri taman belakang rumahnya. Dia
duduk di pinggir kolam sambil memikirkan Kenzo. Entah kenapa otaknya tak
berhenti memikirkan senior tampan yang mengantarnya pulang kemarin.
Sedangkan Kenzo pagi itu masih
terlelap dalam tidurnya yang entah kapan akan berakhir. Sebenarnya Kenzo benci
hari Minggu, soalnya dia selalu bangun kesiangan bahkan sampai tengah hari.
Tiba-tiba jam weker Kenzo berdering dengan keras sehingga membuat tidur
nyenyaknya tertunda. Dilihatnya jam weker spongebob pemberian adik sepupunya
yang tak tahu kapan ia bisa membuangnya. Jam itu sungguh mengganggu, tapi jika
dibuang pasti adik sepupunya akan marah. Jam ternyata sudah menunjukkan pukul
07.45. Kenzo berlari tergesa-gesa ke
kamar mandi. Setelah itu, ia langsung bergerak ke rumah Kenzia.
“Permisi..”
Sapa Kenzo saat sudah sampai di rumah Kenzia. “Eh, Kenzo. Ayo masuk. Aku ganti
pakaian dulu ya.” Ucap Kenzia ramah.
Kenzo melihat setiap sudut rumah
Kenzia. Semuanya warna hijau dan ada corak dedaunan di setiap dinding. “ayo
kita pergi, aku udah siap.” Kenzia datang dengan kemeja kotak-kotak berwarna
coklat. “Oh, iya. Let’s go.” Seketika lamunan Kenzo buyar saat Kenzia datang.
“Kita mau kemana sih sebenarnya?”
Tanya Kenzo sambil menyalakan mobilnya. “Kita ke suatu tempat pokonya.” Kenzia
masih merahasiakan kemana tujuan mereka. Kenzo hanya mengikuti jalan, dan
Kenzia yang menunjuk arahnya. Dan akhirnya sampailah mereka di suatu tempat
yang awalnya membuat Kenzo bingung. “Kita ngapain coba ke sini?” Kenzo tak
henti-hentinya menanyakan hal yang sama kepada Kenzia. Beberapa menit kemudian,
segerombol anak-anak berlarian menghampiri Kenzia dan memeluknya. Mereka bukanlah
anak-anak biasa. Melainkan anak gelandangan dan pengamen yang terlantar.
“Kenalkan adik-adik, ini kak Kenzo.
Dia senior kakak di sekolah. Ayo sapa.” Ujar Kenzia yang terlihat sudah sangat
membaur dengan mereka. “Haloo kak Kenzo.” Sapa mereka serentak. “Hmm..Haloo
juga.” Kenzo masih tak percaya apa yang ia lihat saat ini. “Kita mau belajar
apa adik-adik?”tanya Kenzia. “MELUKIS!!” anak-anak itu terlihat sangat
bersemangat. “Okeh sip.” Kenzia mengeluarkan sepaket crayon dan buku gambar.
Sementara itu, Kenzo mengambil
kameranya di mobil. Kenzo benar-benar tak percaya, Kenzia memang orang yang
sangat peduli. Entah bagaimana caranya ia bisa mengumpulkan anak-anak tadi dan
dengan mudah berbaur dengan mereka. Kenzo memotret Kenzia yang sedang membantu
anak-anak itu melukis. Terlihat sekali bagaimana senyum Kenzia yang manis itu
terukir jelas di lensa kameranya. Dia tampak bahagia. Sangat bahagia.
Setelah, 1 jam mereka bermain dengan
adik-adik pengamen itu, mereka memutuskan untuk pulang. “Ken, aku salut sama
kamu.” Puji Kenzo. “Ah, jangan terlalu berlebihan, Zo.” Kata Kenzia malu-malu.
“Ga banyak orang yang mau ngelakuin hal yang sama dengan yang kamu lakukan
loh.” Kenzo benar-benar mengagumi sosok perempuan yang duduk di sampingnya
kini. “itu adalah mimpiku. Bisa membuat banyak orang bahagia dengan
keberadaanku.”Ujar Kenzia. Kenzo hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju
dengan apa yang dikatakan Kenzia.
Dari hari ke hari, hubungan Kenzo
dan Kenzia semakin dekat. Mereka saling terbuka. Sekarang mereka sudah saling
mengenal satu sama lain. Namun, karena hubungan mereka semakin dekat itulah
yang membuat hati Kenzo ingin menganggap Kenzia lebih dari sekedar sahabat.
Sampai suatu hari, saat mereka sedang berkumpul di halaman belakang sekolah
yang sangat luas itu, Kenzia terlihat sangat bahagia. “Zo, kamu tahu nggak?”
Kenzia duduk di sebelah Kenzo. “Nggak tahu lah. Kamunya belom ngasih tahu.”
Kata Kenzo sambil mengotak-atik kameranya. “Ih, aku serius. Aku jadian sama Choki.”
Ucap Kenzia bahagia. “Hahh??” Kenzo terkejut bukan main. “Loh kenapa? Kamu
nggak suka?” Kenzia justru heran. “Oh..haha nggak kok. Aku ikut seneng.” Kenzo
berbohong.
Apa yang diucapkan oleh Kenzia
barusan benar-benar membuat harapannya hilang begitu saja. Direbahkan badannya
di atas padang rumput nan luas itu. Ia belum ingin pulang ke rumah. “Zo, ga
pulang?” tanya Kenzia. “Nanti, aku masih mau disini. Kamu kalau mau pulang
duluan, pulang aja.” Jawab Kenzo tak semangat. “Aku mau menunggumu saja.” Ujar
Kenzia sambil ikut berbaring di samping Kenzo. “Zo, kamu lihat awannya deh.”
Kata Kenzia seraya menunjuk ke atas. “Mirip tangan.” . “Tangannya saling
berpegangan, Zo. Ah, keren banget.” Kenzia seraya memejamkan matanya. “Harapan
itu seperti awan ya. Semakin kita perhatiin , semakin menghilang. Lihat deh
awannya udah kemana-mana kan.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut
Kenzo. Sekarang ia benar-benar sedih. Tapi apa boleh buat. Dia nggak mungkin
memaksakan kehendaknya kepada Kenzia.
Hari ini, Kenzia mengajak Kenzo
mengunjungi anak-anak itu lagi. Tapi kali ini Kenzia juga akan mengajak Choki
tentunya. Sejujurnya, Kenzo nggak kuat ikut. Tapi demi Kenzia dia tetep datang.
Kali ini mereka pergi naik mobil Choki. Otomatis, Kenzia pasti duduk di depan
dan Kenzo di bangku belakang. Tak ada yang dapat dilakukannya lagi untuk
mengungkapkan perasaannya kepada Kenzia. Sekarang Kenzia sudah punya Choki.
Kenzo memotret Kenzia dan Choki dari belakang. Entah apa yang ada di dalam hati
Kenzo saat ini. Semuanya campur aduk begitu saja. Setelah sampai di tempat
tujuan, Kenzo hanya mengikuti mereka dari belakang. Choki dan Kenzia terlihat
sedang berpegangan tangan. Tak lupa ia mengandalkan kameranya itu. Kalau
dipikir apa gunanya menyimpan foto mereka. Andai
orang itu aku, Ken. Guman Kenzo dalam hati.
“Hai anak-anak.” Sapa Kenzo ramah
sambil memutar-mutar lensa kameranya. “Kak Kenzo kok nggak sama kak Kenzia
lagi?” tanya salah seorang anak. “Loh, kami pergi bareng-bareng kok.”jawab
Kenzo. “Iya, tapi kan biasanya kak Kenzia Cuma berdua sama kak Kenzo.” Anak itu
masih bertanya. “Itu ada pacarnya kak Kenzia.” Kenzo mencoba menyembunyikan
kesedihannya dari anak-anak itu. “Ini kakak bawain buku-buku bacaan. Semoga
bermanfaat ya.” Ujar Kenzo sambil menyerahkan sekardus buku bacaan. “Makasih
banyak kak.” Ujar mereka serentak. Di akhir pertemuan hari ini, Kenzo ingin
memotret semua anak-anak itu dengan Kenzia dan tentunya Choki. “Ayo semuanya
merapat kita foto bareng. Kenzia sama Choki juga ikutan.” Bibir Kenzo
sejujurnya bergetar mengucapkan itu semua. “Senyum, 1,2,3.” Jari-jemari Kenzo
sangat telaten mengambil gambar itu. Ada rasa cemburu dalam hatinya setiap kali
ia memandang Kenzia dan Choki.
Keesokan harinya, Choki tidak masuk
sekolah. Sehingga Kenzia selalu bersama Kenzo saat itu. “Ken, mau nemenin aku
ke suatu tempat ga?” ajak Kenzo. “Kemana?” tanya Kenzia bingung. “Ikut aja
deh.” Tanpa menunggu jawaban Kenzia, Kenzo menarik tangannya menuju tempat yang
ia maksud.
“Wah, indah banget, Zo.” Mata Kenzia
membulat sempurna saat melihat taman bunga di hadapannya. “Aku nggak sengaja
ketemu ini kemaren. Padahal selama sekolah di sini nggak pernah tahu.” Kata
Kenzo menjelaskan. “Mau aku foto?” tawarnya. “Oh, boleh boleh.” Senyum Kenzia
terbentuk jelas di wajahnya. “Eh, tunggu dulu. Sorry ya kalo lancang. Tapi,
kayaknya kamu lagi kena bendera Jepang deh.” . “Hah? Bendera jepang? Haid
maksud kamu, Zo?” Wajah Kenzia memerah tak mampu menahan malu. “Muka kamu biasa
aja kali. Iya, nembus tuh. Ayolah, aku antar pulang.” Kenzo menggandeng tangan
Kenzia. “Tapi anak ekskul kan belum pulang, Zo. Ntar kalo keliatan, muka aku
mau ditaroh dimana?” Kenzia mulai cemas. “Nih, tutupin pake jaket aku.” Kata
Kenzo sambil menyodorkan jaket Manchester United-nya itu. “Ah, makasih banget,
Zo.”. Setelah itu, Kenzo menggandeng tangan Kenzia dan bergegas mengantarnya
pulang. Ada perasaan yang berbeda pada hati Kenzia saat Kenzo menggenggam
tangannya. Tak pernah ia merasakan genggaman sehangat itu selama ia pacaran
dengan Choki.
1
tahun kemudian
“Kamu mau ngelanjutin kemana abis
ini, Zo?” tanya Kenzia. “Kayaknya aku bakal ke luar negeri.” Jawab Kenzo dengan
nada sedih. “Hmmm.. jangan lupa dateng di acara perpisahan besok pagi ya. Aku
tunggu loh.” Ujar Kenzia lalu meninggalkan Kenzo di bangku taman itu.
Tak ada yang tahu, rupanya Kenzia
menangisi Kenzo. Ia tak kuat kalau berpisah dengan Kenzo. 2 tahun ia selalu
menemani suka duka Kenzia. Menemani Kenzia menemui anak-anak itu, mengantarnya
pulang saat ia terkena haid dadakan, semuanya. Kenzia tidak mungkin melupakan
itu semua. Entah kenapa baru kali ini perasaannya semakin aneh. Semakin ia
sering membahas tentang acara perpisahan itu, semakin jelas pula perasaannya
kepada Kenzo. Setelah putus dengan Choki, Kenzo lah yang menenangkannya. Entah
apa yang terjadi selanjutnya kalau Kenzo tidak di sisinya lagi.
Hari yang ditunggu-tunggu kelas XII
akhirnya tiba. Hari dimana mereka akan berpisah dengan orang-orang yang mereka
sayangi selama bersekolah di SMA Harapan Bangsa. Kenzo yang tampak tersenyum
dengan fake smile-nya itu, sibuk mengambil foto beberapa teman sekelasnya.
Orang yang ia tunggu sedari tadi, tak kunjung datang. Ya, Kenzia. Beberapa saat
kemudian, muncul Kenzia dengan dress birunya. “Maaf telat nemuin kamu. Tadi
sibuk nyiapin makanan.” Ujar Kenzia sambil mengatur nafasnya. “Ken, ada yang mau
aku omongin sama kamu.” Kata Kenzo. “Ayo kita omongin di taman bunga kemarin
itu.” Ajak Kenzia yang sejujurnya dalam hatinya takut apa yang akan dikatakan
Kenzo membuatnya tidak kuat. Tidak kuat menahan tangis.
Di taman bunga itu, hanya ada Kenzo
dan Kenzia. “Ken, aku....” belum selesai Kenzo berkata, Kenzia langsung
memeluknya dengan erat. “Kenzo, kamu jangan pergi jauh dari aku. Aku ga bisa
jauh-jauh dari kamu.” Ucap Kenzia tiba-tiba. Kenzo hanya bisa terdiam dan
memeluk Kenzia seperti tak akan lepas. “Ken, aku bakal melanjutkan kuliahku di
China. Jadi kamu jaga diri baik-baik ya. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. 2
tahun bersama kamu. Aku nggak mungkin ngelupain semua itu. Dan maaf aku baru
bisa bilang ini ke kamu.. Kenzia, I Love You so much, More than You know.” Ujar
Kenzo dengan mata yang hampir berlinang air mata. “Kenzo, aku nggak kuat.”
Tangisan Kenzia semakin menjadi-jadi. “Nanti kamu ke Cafe Rainy, aku
meninggalkan sesuatu untukmu disana.” Kata Kenzo sambil meninggalkan Kenzia
sendiri.
Siang itu, Kenzia langsung
mendatangi cafe yang dimaksud Kenzo. “Mbak, tadi ada orang yang namanya Kenzo
datang kesini?” tanya Kenzia. “Oh, ada. Dia ninggalin itu di mejanya.”kata
pelayan itu sambil menunjukkan secangkir mocchachino dengan sepucuk surat di pinggirnya.
Dibukanya surat itu.
“Kenzia, yang aku cintai. Maafkan
aku nggak bisa datang saat kamu membaca surat ini. Karena aku sudah berangkat
ke China. Maafkan aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu. Aku sayang banget
sama kamu. Kalau kamu kangen sama aku, kamu visit blog aku ya. Nanti disana
kamu disuruh ngisi password. Passwordnya adalah kenangan yang nggak bisa kamu
lupain sama aku. Kamu pikir sendiri deh ya. I love you. I will miss you,
Kenzia.”
Saat itu juga Kenzia membuka blog
Kenzo, dan benar saja disana ada kolom password yang harus diisi. Sulit sekali
menebak passwordnya. Dan saat terakhir kalinya ia mencoba, ia mengetikkan
‘taman bunga’ di kolom itu, terbukalah isi blog Kenzo. Dilihatnya blog itu,
hanya ada foto-foto dirinya. Ada juga foto-foto mereka saat bermain dengan
anak-anak jalanan itu, dan satu foto yang membuat Kenzia terkejut adalah foto
tangannya dengan tangan Choki. Dibawah foto itu ada tulisan, “Ken, seharusnya
aku yang genggam tangan kamu kayak gitu.”. Saat itulah Kenzia tahu betapa besar
cinta Kenzo terhadapnya selama ini. Dan ia sangat menyesal kenapa baru sekarang
ia menyadari perasaannya yang salah itu. Perlahan, air mata Kenzia membasahi
pipinya bersamaan dengan tetesan hujan yang turun saat itu.
Aku tak akan melupakan setetes
memori pun bersamamu, Kenzo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar