Selasa, 03 Juni 2014

Setetes Memori


Setetes Memori
            Kenzo masih sibuk memutar-mutar lensa kameranya. Mengambil foto setiap orang yang lewat di hadapannya. Ya, hari ini adalah hari pertama masa orientasi siswa-siswi baru di SMA Harapan Bangsa. Kenzo sebagai senior di sekolah itu kebetulan mendapat tugas di bidang dokumentasi. Karena memang itulah hobinya sejak kecil. Selain itu, ia juga sudah sering mengikuti kontes fotografi nasional dan tak perlu diragukan lagi hasil dari jepretan tangannya itu.
            Kaki Kenzo tertarik untuk mendatangi kelompok kepedulian sosial yang sejak tadi sudah mengemas barang-barang yang akan disalurkan untuk korban banjir. Matanya mulai fokus mencermati objek yang akan ia foto. Secara tak sengaja, ia memotret seorang perempuan dengan rambut dikepang dua sedang mengangkat kardus-kardus berisi pakaian. Dia terlihat cantik. Gumam Kenzo dalam hati. “Hei, bro. Lagi ngapain lo?” Choki mengejutkan lamunan Kenzo. “Ah, nothing. Biasa lagi jepretin muka anak orang. Kamu sendiri ngapain disini?” Tanya Kenzo. “Ya, liatin cewek gue lah.” Ujar Choki. “Cuma diliatin aja? Nggak dibantuin? Mukanya udah hampir bisa dibilang ancur tuh gara-gara ngangkat kardus indomie.” Kenzo tertawa sambil menunjuk Erica pacarnya si Choki. “Ya ampun pacaar guee..” Choki segera berlari membantu pacarnya itu. Saat Kenzo ingin melihat perempuan yang ia foto tadi, ternyata dia sudah tidak ada di tempat semula. Ah sial, kan hilang tuh cewek. Gerutu Kenzo dalam hati.
            Saat hari pertama orientasi berakhir, Kenzo langsung menuju parkiran dan memutar setirnya menuju rumah. Namun, saat berada di depan gerbang sekolah, ia mendapati perempuan yang ia cari tadi. “Hai, mau pulang bareng aku?” ajak Kenzo. “Ah, tidak usah, Kak. Aku naik bus aja.” Ujar perempuan yang tak diketahui namanya itu. “Ayolah, sebentar lagi akan turun hujan. Biarlah aku antar. Aku tidak keberatan. Lagipula tidak baik menolak ajakan kakak senior.”ajak Kenzo sekali lagi. “Baiklah kalau begitu.” Akhirnya perempuan itu masuk ke mobil Kenzo. “Namamu siapa kalau boleh tahu?”Kenzo mulai kepo akan asal usul perempuan itu. “Kenzia kak.”jawab perempuan itu. “Namamu tidak jauh beda denganku. Kenalkan aku Kenzo. Aku senior dari kelas XI.IPA 2.” Kenzo berjabat tangan dengan Kenzia. “Oh, ya kamu mau aku antarin ke mana ini?” Kenzo baru teringat bahwa ia mau mengantar Kenzia pulang. “Oh, rumahku di jalan Kartini no 20.” Jawab Kenzia. “Kulihat kamu aktif sekali di kelompok orientasi kamu. Sampe ngangkat-ngangkat kardus segala. Hahaha.”Kenzo teringat akan foto Kenzia yang ia ambil tadi siang. “Ya, aku beruntung sekali bisa masuk kelompok itu. Karena itu memang bidangku. Aku suka membantu sesama.” Ujarnya dengan menggoreskan senyum di bibirnya. “Oh ya? Bagus dong. Itu rencananya mau dikasih ke korban daerah mana?” Kenzo semakin tertarik untuk berbicara dengan Kenzia. “Di daerah Kebayoran, Kak.”. “Kamu nggak usah manggil aku kakak. Panggil aja Kenzo.” Kenzo merasa tidak nyaman dipanggil kakak terus-terusan. “Oh begitu. Tapi kamu seniorku.”. “Aku bilang, panggil saja Kenzo.” Kenzo menekankan kata-katanya kembali. “Eh, itu rumahku, Zo.” Kata Kenzia sambil menunjuk rumah warna hijau penuh tanaman hias di halamannya. “Makasih ya. Udah ngantarin.” Ujarnya sambil tersenyum ke arah Kenzo. “Oke. No problem.”. “Eh, Zo. Mau ikut aku besok nggak?” Tiba-tiba Kenzia berjalan balik ke arah Kenzo. “Kemana? Ke daerah banjir? Ah sorry deh. Ga ikutan.” Kenzo langsung menolak begitu saja tanpa mengetahui kemana mereka akan pergi.  “Bukan lah. Siapa juga yang mau ke sana? Besok kamu tahu sendiri deh.” Kenzia tersenyum sinis sambil mengedipkan matanya. “Besok aku jemput jam 8 pagi ya. Bye.” Mobil Kenzo berbelok perlahan meninggalkan kediaman Kenzia.
            Kenzia mau ngajakin aku kemana? Hati Kenzo dipenuhi seribu pertanyaan dengan tanda tanya besar. Kenzo lupa bahwa besok hari minggu dan ia biasanya akan bangun siang dan ia juga tidak sempat meminta nomor handphone Kenzia.
            Keesokan harinya, Kenzia bangun sangat pagi. Disibakkan tirai bermotif rillakuma itu dan cahaya matahari menyinari wajahnya yang kusut itu. Dilihatnya jam yang tertempel di dinding kamarnya itu. Pukul 06.45. Masih 1 jam lagi. Pikir Kenzia. Kenzia berjalan menyusuri taman belakang rumahnya. Dia duduk di pinggir kolam sambil memikirkan Kenzo. Entah kenapa otaknya tak berhenti memikirkan senior tampan yang mengantarnya pulang kemarin.
            Sedangkan Kenzo pagi itu masih terlelap dalam tidurnya yang entah kapan akan berakhir. Sebenarnya Kenzo benci hari Minggu, soalnya dia selalu bangun kesiangan bahkan sampai tengah hari. Tiba-tiba jam weker Kenzo berdering dengan keras sehingga membuat tidur nyenyaknya tertunda. Dilihatnya jam weker spongebob pemberian adik sepupunya yang tak tahu kapan ia bisa membuangnya. Jam itu sungguh mengganggu, tapi jika dibuang pasti adik sepupunya akan marah. Jam ternyata sudah menunjukkan pukul 07.45. Kenzo berlari  tergesa-gesa ke kamar mandi. Setelah itu, ia langsung bergerak ke rumah Kenzia.
“Permisi..” Sapa Kenzo saat sudah sampai di rumah Kenzia. “Eh, Kenzo. Ayo masuk. Aku ganti pakaian dulu ya.” Ucap Kenzia ramah.
            Kenzo melihat setiap sudut rumah Kenzia. Semuanya warna hijau dan ada corak dedaunan di setiap dinding. “ayo kita pergi, aku udah siap.” Kenzia datang dengan kemeja kotak-kotak berwarna coklat. “Oh, iya. Let’s go.” Seketika lamunan Kenzo buyar saat Kenzia datang.
            “Kita mau kemana sih sebenarnya?” Tanya Kenzo sambil menyalakan mobilnya. “Kita ke suatu tempat pokonya.” Kenzia masih merahasiakan kemana tujuan mereka. Kenzo hanya mengikuti jalan, dan Kenzia yang menunjuk arahnya. Dan akhirnya sampailah mereka di suatu tempat yang awalnya membuat Kenzo bingung. “Kita ngapain coba ke sini?” Kenzo tak henti-hentinya menanyakan hal yang sama kepada Kenzia. Beberapa menit kemudian, segerombol anak-anak berlarian menghampiri Kenzia dan memeluknya. Mereka bukanlah anak-anak biasa. Melainkan anak gelandangan dan pengamen yang terlantar.
            “Kenalkan adik-adik, ini kak Kenzo. Dia senior kakak di sekolah. Ayo sapa.” Ujar Kenzia yang terlihat sudah sangat membaur dengan mereka. “Haloo kak Kenzo.” Sapa mereka serentak. “Hmm..Haloo juga.” Kenzo masih tak percaya apa yang ia lihat saat ini. “Kita mau belajar apa adik-adik?”tanya Kenzia. “MELUKIS!!” anak-anak itu terlihat sangat bersemangat. “Okeh sip.” Kenzia mengeluarkan sepaket crayon dan buku gambar.
            Sementara itu, Kenzo mengambil kameranya di mobil. Kenzo benar-benar tak percaya, Kenzia memang orang yang sangat peduli. Entah bagaimana caranya ia bisa mengumpulkan anak-anak tadi dan dengan mudah berbaur dengan mereka. Kenzo memotret Kenzia yang sedang membantu anak-anak itu melukis. Terlihat sekali bagaimana senyum Kenzia yang manis itu terukir jelas di lensa kameranya. Dia tampak bahagia. Sangat bahagia.
            Setelah, 1 jam mereka bermain dengan adik-adik pengamen itu, mereka memutuskan untuk pulang. “Ken, aku salut sama kamu.” Puji Kenzo. “Ah, jangan terlalu berlebihan, Zo.” Kata Kenzia malu-malu. “Ga banyak orang yang mau ngelakuin hal yang sama dengan yang kamu lakukan loh.” Kenzo benar-benar mengagumi sosok perempuan yang duduk di sampingnya kini. “itu adalah mimpiku. Bisa membuat banyak orang bahagia dengan keberadaanku.”Ujar Kenzia. Kenzo hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan Kenzia.
            Dari hari ke hari, hubungan Kenzo dan Kenzia semakin dekat. Mereka saling terbuka. Sekarang mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Namun, karena hubungan mereka semakin dekat itulah yang membuat hati Kenzo ingin menganggap Kenzia lebih dari sekedar sahabat. Sampai suatu hari, saat mereka sedang berkumpul di halaman belakang sekolah yang sangat luas itu, Kenzia terlihat sangat bahagia. “Zo, kamu tahu nggak?” Kenzia duduk di sebelah Kenzo. “Nggak tahu lah. Kamunya belom ngasih tahu.” Kata Kenzo sambil mengotak-atik kameranya. “Ih, aku serius. Aku jadian sama Choki.” Ucap Kenzia bahagia. “Hahh??” Kenzo terkejut bukan main. “Loh kenapa? Kamu nggak suka?” Kenzia justru heran. “Oh..haha nggak kok. Aku ikut seneng.” Kenzo berbohong.
            Apa yang diucapkan oleh Kenzia barusan benar-benar membuat harapannya hilang begitu saja. Direbahkan badannya di atas padang rumput nan luas itu. Ia belum ingin pulang ke rumah. “Zo, ga pulang?” tanya Kenzia. “Nanti, aku masih mau disini. Kamu kalau mau pulang duluan, pulang aja.” Jawab Kenzo tak semangat. “Aku mau menunggumu saja.” Ujar Kenzia sambil ikut berbaring di samping Kenzo. “Zo, kamu lihat awannya deh.” Kata Kenzia seraya menunjuk ke atas. “Mirip tangan.” . “Tangannya saling berpegangan, Zo. Ah, keren banget.” Kenzia seraya memejamkan matanya. “Harapan itu seperti awan ya. Semakin kita perhatiin , semakin menghilang. Lihat deh awannya udah kemana-mana kan.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Kenzo. Sekarang ia benar-benar sedih. Tapi apa boleh buat. Dia nggak mungkin memaksakan kehendaknya kepada Kenzia.
            Hari ini, Kenzia mengajak Kenzo mengunjungi anak-anak itu lagi. Tapi kali ini Kenzia juga akan mengajak Choki tentunya. Sejujurnya, Kenzo nggak kuat ikut. Tapi demi Kenzia dia tetep datang. Kali ini mereka pergi naik mobil Choki. Otomatis, Kenzia pasti duduk di depan dan Kenzo di bangku belakang. Tak ada yang dapat dilakukannya lagi untuk mengungkapkan perasaannya kepada Kenzia. Sekarang Kenzia sudah punya Choki. Kenzo memotret Kenzia dan Choki dari belakang. Entah apa yang ada di dalam hati Kenzo saat ini. Semuanya campur aduk begitu saja. Setelah sampai di tempat tujuan, Kenzo hanya mengikuti mereka dari belakang. Choki dan Kenzia terlihat sedang berpegangan tangan. Tak lupa ia mengandalkan kameranya itu. Kalau dipikir apa gunanya menyimpan foto mereka. Andai orang itu aku, Ken. Guman Kenzo dalam hati.
            “Hai anak-anak.” Sapa Kenzo ramah sambil memutar-mutar lensa kameranya. “Kak Kenzo kok nggak sama kak Kenzia lagi?” tanya salah seorang anak. “Loh, kami pergi bareng-bareng kok.”jawab Kenzo. “Iya, tapi kan biasanya kak Kenzia Cuma berdua sama kak Kenzo.” Anak itu masih bertanya. “Itu ada pacarnya kak Kenzia.” Kenzo mencoba menyembunyikan kesedihannya dari anak-anak itu. “Ini kakak bawain buku-buku bacaan. Semoga bermanfaat ya.” Ujar Kenzo sambil menyerahkan sekardus buku bacaan. “Makasih banyak kak.” Ujar mereka serentak. Di akhir pertemuan hari ini, Kenzo ingin memotret semua anak-anak itu dengan Kenzia dan tentunya Choki. “Ayo semuanya merapat kita foto bareng. Kenzia sama Choki juga ikutan.” Bibir Kenzo sejujurnya bergetar mengucapkan itu semua. “Senyum, 1,2,3.” Jari-jemari Kenzo sangat telaten mengambil gambar itu. Ada rasa cemburu dalam hatinya setiap kali ia memandang Kenzia dan Choki.
            Keesokan harinya, Choki tidak masuk sekolah. Sehingga Kenzia selalu bersama Kenzo saat itu. “Ken, mau nemenin aku ke suatu tempat ga?” ajak Kenzo. “Kemana?” tanya Kenzia bingung. “Ikut aja deh.” Tanpa menunggu jawaban Kenzia, Kenzo menarik tangannya menuju tempat yang ia maksud.
            “Wah, indah banget, Zo.” Mata Kenzia membulat sempurna saat melihat taman bunga di hadapannya. “Aku nggak sengaja ketemu ini kemaren. Padahal selama sekolah di sini nggak pernah tahu.” Kata Kenzo menjelaskan. “Mau aku foto?” tawarnya. “Oh, boleh boleh.” Senyum Kenzia terbentuk jelas di wajahnya. “Eh, tunggu dulu. Sorry ya kalo lancang. Tapi, kayaknya kamu lagi kena bendera Jepang deh.” . “Hah? Bendera jepang? Haid maksud kamu, Zo?” Wajah Kenzia memerah tak mampu menahan malu. “Muka kamu biasa aja kali. Iya, nembus tuh. Ayolah, aku antar pulang.” Kenzo menggandeng tangan Kenzia. “Tapi anak ekskul kan belum pulang, Zo. Ntar kalo keliatan, muka aku mau ditaroh dimana?” Kenzia mulai cemas. “Nih, tutupin pake jaket aku.” Kata Kenzo sambil menyodorkan jaket Manchester United-nya itu. “Ah, makasih banget, Zo.”. Setelah itu, Kenzo menggandeng tangan Kenzia dan bergegas mengantarnya pulang. Ada perasaan yang berbeda pada hati Kenzia saat Kenzo menggenggam tangannya. Tak pernah ia merasakan genggaman sehangat itu selama ia pacaran dengan Choki.
            1 tahun kemudian
            “Kamu mau ngelanjutin kemana abis ini, Zo?” tanya Kenzia. “Kayaknya aku bakal ke luar negeri.” Jawab Kenzo dengan nada sedih. “Hmmm.. jangan lupa dateng di acara perpisahan besok pagi ya. Aku tunggu loh.” Ujar Kenzia lalu meninggalkan Kenzo di bangku taman itu.
            Tak ada yang tahu, rupanya Kenzia menangisi Kenzo. Ia tak kuat kalau berpisah dengan Kenzo. 2 tahun ia selalu menemani suka duka Kenzia. Menemani Kenzia menemui anak-anak itu, mengantarnya pulang saat ia terkena haid dadakan, semuanya. Kenzia tidak mungkin melupakan itu semua. Entah kenapa baru kali ini perasaannya semakin aneh. Semakin ia sering membahas tentang acara perpisahan itu, semakin jelas pula perasaannya kepada Kenzo. Setelah putus dengan Choki, Kenzo lah yang menenangkannya. Entah apa yang terjadi selanjutnya kalau Kenzo tidak di sisinya lagi.
            Hari yang ditunggu-tunggu kelas XII akhirnya tiba. Hari dimana mereka akan berpisah dengan orang-orang yang mereka sayangi selama bersekolah di SMA Harapan Bangsa. Kenzo yang tampak tersenyum dengan fake smile-nya itu, sibuk mengambil foto beberapa teman sekelasnya. Orang yang ia tunggu sedari tadi, tak kunjung datang. Ya, Kenzia. Beberapa saat kemudian, muncul Kenzia dengan dress birunya. “Maaf telat nemuin kamu. Tadi sibuk nyiapin makanan.” Ujar Kenzia sambil mengatur nafasnya. “Ken, ada yang mau aku omongin sama kamu.” Kata Kenzo. “Ayo kita omongin di taman bunga kemarin itu.” Ajak Kenzia yang sejujurnya dalam hatinya takut apa yang akan dikatakan Kenzo membuatnya tidak kuat. Tidak kuat menahan tangis.
            Di taman bunga itu, hanya ada Kenzo dan Kenzia. “Ken, aku....” belum selesai Kenzo berkata, Kenzia langsung memeluknya dengan erat. “Kenzo, kamu jangan pergi jauh dari aku. Aku ga bisa jauh-jauh dari kamu.” Ucap Kenzia tiba-tiba. Kenzo hanya bisa terdiam dan memeluk Kenzia seperti tak akan lepas. “Ken, aku bakal melanjutkan kuliahku di China. Jadi kamu jaga diri baik-baik ya. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. 2 tahun bersama kamu. Aku nggak mungkin ngelupain semua itu. Dan maaf aku baru bisa bilang ini ke kamu.. Kenzia, I Love You so much, More than You know.” Ujar Kenzo dengan mata yang hampir berlinang air mata. “Kenzo, aku nggak kuat.” Tangisan Kenzia semakin menjadi-jadi. “Nanti kamu ke Cafe Rainy, aku meninggalkan sesuatu untukmu disana.” Kata Kenzo sambil meninggalkan Kenzia sendiri.
            Siang itu, Kenzia langsung mendatangi cafe yang dimaksud Kenzo. “Mbak, tadi ada orang yang namanya Kenzo datang kesini?” tanya Kenzia. “Oh, ada. Dia ninggalin itu di mejanya.”kata pelayan itu sambil menunjukkan secangkir mocchachino dengan sepucuk surat di pinggirnya. Dibukanya surat itu.

            “Kenzia, yang aku cintai. Maafkan aku nggak bisa datang saat kamu membaca surat ini. Karena aku sudah berangkat ke China. Maafkan aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu. Aku sayang banget sama kamu. Kalau kamu kangen sama aku, kamu visit blog aku ya. Nanti disana kamu disuruh ngisi password. Passwordnya adalah kenangan yang nggak bisa kamu lupain sama aku. Kamu pikir sendiri deh ya. I love you. I will miss you, Kenzia.”
            Saat itu juga Kenzia membuka blog Kenzo, dan benar saja disana ada kolom password yang harus diisi. Sulit sekali menebak passwordnya. Dan saat terakhir kalinya ia mencoba, ia mengetikkan ‘taman bunga’ di kolom itu, terbukalah isi blog Kenzo. Dilihatnya blog itu, hanya ada foto-foto dirinya. Ada juga foto-foto mereka saat bermain dengan anak-anak jalanan itu, dan satu foto yang membuat Kenzia terkejut adalah foto tangannya dengan tangan Choki. Dibawah foto itu ada tulisan, “Ken, seharusnya aku yang genggam tangan kamu kayak gitu.”. Saat itulah Kenzia tahu betapa besar cinta Kenzo terhadapnya selama ini. Dan ia sangat menyesal kenapa baru sekarang ia menyadari perasaannya yang salah itu. Perlahan, air mata Kenzia membasahi pipinya bersamaan dengan tetesan hujan yang turun saat itu.
Aku tak akan melupakan setetes memori pun bersamamu, Kenzo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar