Title : Tears inside Rain
Author : Xiaohunhae (dhiya iftina .L.)
Main cast :
- Xi Luhan EXO
- Kim Yoo Jung
Other
cast : EXO’s member, Choi Jinri f(x), and the others [find by yourself]
Genre
: Family, school life
Enjoy
the story and mianhae for typo J
CHAPTER
1
Hujan masih membasahi kota seoul
sejak tadi malam. Tak sedikitpun ada tanda-tanda akan berhenti. Sedari tadi
Luhan hanya memandangi jendela berembunnya itu. Rintik-rintik hujan yang
bernyanyi meluluhkan semangat Luhan.
“Oh,
ayolah. Kapan hujan ini akan berhenti? Jangan sampai aku melewatkan hari minggu
ini di rumah.” Luhan mengeluh di dalam hatinya.
Luhan
adalah orang yang cepat bosan, apalagi saat hujan seperti ini.
“Luhan-ah,
cepatlah bergegas. Kita akan pergi ke Pulau Jeju. Sepertinya disana tidak
hujan.” Suara eomma mengejutkannya.
“Hmm..ne
eomma.” Luhan berlari mengambil tas dan keperluannya.
Luhan berjalan menuruni tangga, dan
mendapati adik perempuannya baru keluar dari kamarnya.
“Annyeong,
oppa.” Sapa adik perempuannya itu.
Luhan
hanya diam dan tidak menghiraukan ucapan adiknya itu. “Luhan-ah, tolong
angkatkan barang-barang adikmu.” eomma berteriak dari luar rumah.
“Mwo?
Dia ikut juga?” Luhan bertanya kembali.
“Ya
tentu, lalu dia di rumah dengan siapa.” Ujar eomma.
Dengan
terpaksa dan wajah malas Luhan mengangkat barang-barang adiknya. Entah kenapa
sampai saat ini Luhan belum bisa memaafkan adiknya itu. Yang Luhan rasakan kini
hanyalah, kekesalan dan kebencian dalam hatinya.
Luhan Pov’s
“Luhan-ah,
tolong angkatkan barang-barang adikmu.” Eomma setengah berteriak sambil
mengemasi barang-barang di dalam mobil.
“Mwo?
Dia ikut juga?” Ujarku terheran-heran.
“Ya
tentu, lalu dia di rumah dengan siapa.” Jawab eomma.
Oh no..haruskah dia ikut? Tak
bisakah aku pergi hanya dengan eomma? Ini sungguh menyebalkan. Mungkin
orang-orang berkata aku adalah oppa yang paling kejam di dunia ini. Ya, sampai
sekarang aku belum bisa berhenti membencinya. Tak pernah lagi sedikitpun aku
ingin dekat dengannya, bahkan tak ingin aku menganggapnya sebagai adik. Kebencian
itu mungkin akan terus bersarang dihatiku entah sampai kapanpun itu. Aku tau
dia yeoja yang baik, manis, cantik, lembut dan bisa dibilang sempurna. Tapi ada
satu yang membuatnya tidak terilhat sempurna, Kursi rodanya. Aku tak ingat
kapan hal itu terjadi dan aku tak ingin mengingat itu. Ia kehilangan kekuatan
untuk berdiri, dan kini ia hanya bisa duduk di kursi yang kurasa susah untuknya
berjalan. Aku benar-benar benci dia.
“Oppa, apa yang kau tunggu. Kita
akan berangkat.” Yeoja itu datang menghampiriku.
“Yoo
jung-ah, berhentilah memperhatikanku. Aku bisa sendiri.” Ujarku seraya
meninggalkannya di belakangku.
Yoo
jung berjalan mengikutiku, dengan kursi rodanya. Aku kasihan dengannya, aku
ingin membantunya. Hanya saja, aku belum bisa memaafkannya. Bahkan mungkin
seumur hidupku.
Aku
memasuki mobil. Dan seperti biasa Yoo Jung duduk disebelahku.
“Yoo
jung-ah, jangan duduk dekat-dekat denganku.” Aku menggeser dudukku lebih dekat
ke jendela.
“Kyaa..Luhan-ah.
Kau tidak boleh seperti itu dengan adikmu. Sampai kapan kau mau seperti ini?”
Eomma sudah berkali-kali mengatakan hal ini di depanku, dan telingaku hampir
pecah dibuatnya.
“Luhan-ah,
kau harus mengerti. Kau sudah dewasa. Bersikaplah bijaksana.” Ujar eomma.
Aku hanya menyalakan mp3 player ku
tanpa menghiraukan ucapan eomma. Bagiku ia hanyalah bayangan. Aku tak akan
pernah menganggapnya sebagai adikku, dan tak akan pernah ingin di dekatnya.
Author Pov’s
Mobil silver itu akhirnya sampai di
pulau Jeju. Keindahan di sekitar Pulau Jeju menyejukkan pikiran Luhan. Eomma
memarkirkan mobilnya di depan Villa yang tidak jauh dari Pulau Jeju. Luhan dan
Yoo Jung keluar dari mobil. Eomma membantu Yoo Jung keluar dari mobil. Serba
susah hidup Yoo jung ini. Sebenarnya ia tidak ingin menyusahkan eomma nya. Ia
ingin melakukannya sendiri. Tapi selalu tidak bisa.
Sedangkan oppanya tak pernah
sedikitpun berniat ingin membantunya dan melindunginya. Luhan memasuki villa
terlebih dahulu. “Deer!!”eomma menghentikan langkahnya.
“Apa
lagi eomma? Aku lelah.” Luhan kembali menolak.
“Kau
mau meninggalkan barang-barang ini disini begitu saja?” ,
“Ini
kan barang-barang Yoo Jung, kenapa harus aku?” ,
“Luuhaan..berhentilah
berkata seperti itu!!” Eomma membentak Luhan.
“Ya..ya..ya..aku
akan membawanya.” Luhan mengerucutkan bibirnya.
Luhan berjalan menuju pintu Villa.
Dan Yoo Jung sedang duduk di tepi pintu.
“Gomawoyo
oppa, sudah membawakan tasku.” Ujar Yoo Jung.
“Kau
hanya bisa mengucapkan terima kasih dan terima kasih. Kau tidak tau ini menjadi
beban untukku? Kau selalu menyusahkanku.” Luhan membanting tas Yoo Jung begitu
saja.
“Mianhae
oppa.” Hanya itu yang diucapkan Yoo Jung dari bibir mungilnya itu.
Yoo Jung masih bingung kenapa sikap
Oppa nya tak pernah berubah sedikitpun. Ia sudah sering menghadapi oppanya
seperti ini. Sudah sekian kalinya dan sudah berpuluh-puluh kalinya. Ia masih
heran kenapa oppa nya belum bisa menerima keadaannya seperti ini.
“Yoo
Jung-ah, kau tidur sekamar dengan oppamu ya. Dikamar itu nanti ada tempat tidur
bertingkat. Kau tidur dibawah saja, dan oppamu tidur diatas.” Ujar eomma.
“Mwo?
Sekamar dengan dia? Ayolah eomma , aku ingin kamar sendiri.” Pinta Luhan.
“Luhan-ah
, perlukah aku memukulmu lagi?” eomma mengancam Luhan.
“Haah,,
selalu saja seperti ini. Yoo Jung..Yoo Jung..dan Yoo Jung.” Kata Luhan dengan
nada yang tinggi.
Luhan memasuki kamar yang ditunjuk
eomma nya tadi. Luhan masih tak habis pikir kenapa eomma memintanya sekamar
dengan Yoo Jung. Yoo Jung datang memasuki kamar, diletakkannya tas nya lalu
pergi lagi entah kemana. Sedangkan Luhan langsung tidur karena kelelahan.
Ternyata Yoo Jung keluar ingin
melepas kepenatannya dengan jalan-jalan.
“Yoo
jung-ah, kau mau kemana?” tanya eomma.
“Ah..
aku hanya ingin jalan-jalan sebentar.” Ujar Yoo Jung
“Ajak
oppamu sana.” Kata eomma.
“Mmm..biarkan
aku sendiri. Ia sedang kelelahan.” Yoo Jung keluar dari villa meninggalkan
eommanya.
Yoo Jung berjalan keluar villa
menghirup udara segar di sekitar Pulau Jeju dan tidak sengaja mendapati seorang
namja yang bisa dibilang keadaannya hampir sama dengannya.
“Annyeong..”
sapa Yoo Jung
“Annyeong.”
Namja itu membalas sapaan Yoo Jung.
“Sedang
berlibur juga?” tanya Yoo Jung.
“Anio,
aku memang tinggal di sekitar sini. Kau kesini sendirian?” ,
“oh,
aku pergi bersama eomma dan oppa ku. Mereka sedang istirahat di villa.” Ujar
Yoo Jung.
“kau
ingin jalan-jalan? Biar aku temani.” Tawar namja itu.
“Okay.
Rumahmu dimana?” tanya Yoo Jung sambil menggerakkan kursi rodanya.
“Di
rumah yang itu.” Kata namja itu sambil menunjuk rumah kecil berwarna biru muda
dengan banyak bunga lily di depannya.
“Rumahmu
tampak sepi. Oh ya, namamu siapa?” Yoo Jung menyadari dari tadi ia tidak tahu
nama namja itu.
“Oh
iya, Park Geon Tae imnida.”kata namja itu sambil mengulurkan tangannya.
“Yoo
Jung imnida.”Yoo Jung membalas uluran tangan namja itu.
“Rumahku
memang sepi, Yoo Jung-ah.” Ujar Geon Tae.
“Waeyo?
Keluargamu sedang keluar kota?” tanya Yoo jung.
“Ani,
aku memang tinggal sendiri.”,
“Bagaimana
bisa? Kemana orang tuamu?”,
“Sudah
kubilang, aku tinggal sendiri. Otomatis tidak ada orang tuaku disini. Kenapa kau
menggunakan kursi roda?” ucap Geon Tae.
“sesuatu
terjadi padaku. Kau sendiri?” Yoo jung kembali bertanya.
“Aku
memang sudah seperti ini sejak aku lahir. Dan kecacatanku inilah yang membuat
aku tinggal sendiri.”,
“maksudmu?”
Yoo jung semakin tidak mengerti apa yang dimaksud oleh namja ini.
“Karena
keadaanku yang seperti ini, tak ada satu pun keluarga yang peduli padaku bahkan
mereka membenciku dan menyuruhku pergi jauh. Ya sekarang seperti inilah
keadaanku.” Jelas Geon tae.
“Oh,
sekarang aku mengerti. Bahkan aku juga dibenci oleh oppaku. “ tutur Yoo Jung.
“Kau
beruntung hanya oppamu yang benci padamu. Yoo Jung-ah, kau harus tahu. Mereka
membenci kita terkadang bukan karena keadaan kita, tapi ada alasan lain yang
membuat mereka tak ingin mengingat masa lalu itu.” Ujar Geon Tae.
“Geon
Tae-ah, lihatlah sebentar lagi akan hujan. Kita sebaiknya kembali.” Kata Yoo
jung sambil menunjuk ke arah awan hitam.
“Ne,
kau benar. Oh ya ini untukmu, aku membuatnya tadi. Aku pikir daripada tidak
dimakan, lebih baik kuberi padamu. Aku akan pulang ke rumah.” Kata Geon Tae
sambil memberikan sekotak Gimbap yang ia buat sebelum ia pergi keluar rumah.
“Gomawo,
geon tae-ah. Apa tidak sebaiknya kau berteduh di villaku?”,
“Ah
aniya, aku terlalu lelah. Aku ingin istirahat. Enjoy your holiday ya.” Geon Tae
melambaikan tangannya ke arah Yoo Jung.
***
Saat makan malam pun tiba. Luhan
terlihat sibuk membolak-balikkan handphonenya sejak tadi. Sedangkan Yoo Jung bermain
PSP. “Luhan-ah, apa yang kau lakukan sejak tadi?” tanya eomma.
“Apa wi-fi disini
tidak aktif? Tidak ada jaringan.” Ternyata wi-fi lah yang membuat Luhan tidak
tenang sejak tadi. “Kau tidak lihat diluar hujan? Mungkin saja wi-fi nya
rusak.” Ujar eomma.
“Yoo jung-ah, kau
pasti sudah lapar. Tunggu ya sebentar lagi makanannya akan siap.” Kata eomma
yang memerhatikan Yoo Jung bermain game. Yoo Jung hanya menganggukkan kepalanya
menjawab pertanyaan eomma.
“Ini sudah selesai.” Eomma membawa
semangkok ramen. “Apa tidak ada sayuran disini eomma?” tanya Yoo Jung. “Mian,
sayang. Disini hanya ada ramen. Eomma lupa membelinya tadi. Kajja, makanlah.”.
Luhan berhenti dari aktivitasnya,
tak dihiraukan lagi wi-fi yang ia butuhkan. Kini ia sangat lapar, dan ramen lah
kini yang ia butuhkan. “Oh ya, tadi ada yang memberiku ini.” Ujar Yoo jung
sambil menyuguhkan Gimbap pemberian Geon Tae. “Nuguya?” tanya eomma. “Namja
seumuranku yang tinggal tidak jauh dari villa ini.” Kata Yoo jung.
“Ada yang ingin
eomma beritahu kepada kalian berdua.” Kata-kata eomma membuat Luhan dan Yoo
Jung mengernyitkan dahi mereka.
“Apa itu eomma?”
tanya Luhan dengan pipi menggembung karena kepenuhan gimbap.
“Begini, Eomma
akan memindahkan Yoo Jung ke sekolah yang sama denganmu.” Tutur eomma.
“Mwoo??” Luhan
tersedak saat mendengar kalimat itu meluncur dari mulut eommanya.
“Waeyo, Deer?”,
“Uhukk..uhukk..hmm.
Aku tidak mau satu sekolah dengannya!!” Bentak Luhan.
“Ya sudah, kalau
begitu kau yang akan eomma keluarkan dari sekolah.” Kata eomma sambil
menyuapkan ramen kemulutnya.
“Oh eomma,
andwae. Kenapa kau melakukan itu padaku eomma?” Luhan tak berhenti merengek.
“Dia adikmu,
Luhan-ah. Kau ini kenapa? Wajar saja ia satu sekolah denganmu.” Kata eomma.
“Sudahlah, aku
lelah berdebat hanya karena adik perempuanku yang sangat disayang ini.” Luhan
meninggalkan Yoo jung dan eomma di meja makan dan masuk ke kamarnya.
“Eomma, lihatlah
oppa semakin benci padaku jika kau melakukan itu.” Ujar Yoo jung.
“Eomma akan tetap
melakukan demi kebaikan kalian berdua.” Kata eomma seraya meninggalkan Yoo jung
sendiri.
Hari sudah semakin malam, jarum jam
sudah menunjukkan pukul 11 malam. Luhan dan eomma sudah tidur terlebih dahulu.
Yoo jung masih duduk di sofa dengan selimutnya. Ia akan tidur diluar malam ini.
Ia tidak ingin membuat oppanya semakin membencinya. Yoo jung terpikir apa yang
dikatakan oleh Geon Tae tadi sore. Kalau
bukan karena keadaan lumpuhnya, berati oppanya mempunyai alasan tertentu kenapa
ia begitu dibenci. Dan sekarang ada masalah baru, ia harus satu sekolah dengan
oppanya.
‘Apakah keadaan
orang sepertiku ini harus dibenci seperti halnya Geon Tae yang dibenci
keluarganya?’ -Yoo Jung-
‘Tidak adakah hal
yang lebih baik, dibandingkan harus satu sekolah dengan adikku?’ –Luhan-
Apa yang akan
terjadi selanjutnya? Apa yang akan Luhan lakukan saat Yoo jung berada di
sekolah yang sama dengannya? Akankah Luhan menyembunyikan statusnya sebagai
oppa Yoo jung?
-To be continue.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar