Selasa, 03 Juni 2014

Tears Inside Rain (PART 1)


Title : Tears inside Rain
Author : Xiaohunhae (dhiya iftina .L.)
Main cast :
-       Xi Luhan EXO
-       Kim Yoo Jung

Other cast : EXO’s member, Choi Jinri f(x), and the others [find by yourself]
Genre : Family, school life

Enjoy the story and mianhae for typo J


            CHAPTER 1

            Hujan masih membasahi kota seoul sejak tadi malam. Tak sedikitpun ada tanda-tanda akan berhenti. Sedari tadi Luhan hanya memandangi jendela berembunnya itu. Rintik-rintik hujan yang bernyanyi meluluhkan semangat Luhan.
“Oh, ayolah. Kapan hujan ini akan berhenti? Jangan sampai aku melewatkan hari minggu ini di rumah.” Luhan mengeluh di dalam hatinya.
Luhan adalah orang yang cepat bosan, apalagi saat hujan seperti ini.
“Luhan-ah, cepatlah bergegas. Kita akan pergi ke Pulau Jeju. Sepertinya disana tidak hujan.” Suara eomma mengejutkannya.
“Hmm..ne eomma.” Luhan berlari mengambil tas dan keperluannya.
            Luhan berjalan menuruni tangga, dan mendapati adik perempuannya baru keluar dari kamarnya.
“Annyeong, oppa.” Sapa adik perempuannya itu.
Luhan hanya diam dan tidak menghiraukan ucapan adiknya itu. “Luhan-ah, tolong angkatkan barang-barang adikmu.” eomma berteriak dari luar rumah.
“Mwo? Dia ikut juga?” Luhan bertanya kembali.
“Ya tentu, lalu dia di rumah dengan siapa.” Ujar eomma.
Dengan terpaksa dan wajah malas Luhan mengangkat barang-barang adiknya. Entah kenapa sampai saat ini Luhan belum bisa memaafkan adiknya itu. Yang Luhan rasakan kini hanyalah, kekesalan dan kebencian dalam hatinya.
Luhan Pov’s
“Luhan-ah, tolong angkatkan barang-barang adikmu.” Eomma setengah berteriak sambil mengemasi barang-barang di dalam mobil.
“Mwo? Dia ikut juga?” Ujarku terheran-heran.
“Ya tentu, lalu dia di rumah dengan siapa.” Jawab eomma.
            Oh no..haruskah dia ikut? Tak bisakah aku pergi hanya dengan eomma? Ini sungguh menyebalkan. Mungkin orang-orang berkata aku adalah oppa yang paling kejam di dunia ini. Ya, sampai sekarang aku belum bisa berhenti membencinya. Tak pernah lagi sedikitpun aku ingin dekat dengannya, bahkan tak ingin aku menganggapnya sebagai adik. Kebencian itu mungkin akan terus bersarang dihatiku entah sampai kapanpun itu. Aku tau dia yeoja yang baik, manis, cantik, lembut dan bisa dibilang sempurna. Tapi ada satu yang membuatnya tidak terilhat sempurna, Kursi rodanya. Aku tak ingat kapan hal itu terjadi dan aku tak ingin mengingat itu. Ia kehilangan kekuatan untuk berdiri, dan kini ia hanya bisa duduk di kursi yang kurasa susah untuknya berjalan. Aku benar-benar benci dia.
            “Oppa, apa yang kau tunggu. Kita akan berangkat.” Yeoja itu datang menghampiriku.
“Yoo jung-ah, berhentilah memperhatikanku. Aku bisa sendiri.” Ujarku seraya meninggalkannya di belakangku.
Yoo jung berjalan mengikutiku, dengan kursi rodanya. Aku kasihan dengannya, aku ingin membantunya. Hanya saja, aku belum bisa memaafkannya. Bahkan mungkin seumur hidupku.
Aku memasuki mobil. Dan seperti biasa Yoo Jung duduk disebelahku.
“Yoo jung-ah, jangan duduk dekat-dekat denganku.” Aku menggeser dudukku lebih dekat ke jendela.
“Kyaa..Luhan-ah. Kau tidak boleh seperti itu dengan adikmu. Sampai kapan kau mau seperti ini?” Eomma sudah berkali-kali mengatakan hal ini di depanku, dan telingaku hampir pecah dibuatnya.
“Luhan-ah, kau harus mengerti. Kau sudah dewasa. Bersikaplah bijaksana.” Ujar eomma.
            Aku hanya menyalakan mp3 player ku tanpa menghiraukan ucapan eomma. Bagiku ia hanyalah bayangan. Aku tak akan pernah menganggapnya sebagai adikku, dan tak akan pernah ingin di dekatnya.

Author Pov’s
            Mobil silver itu akhirnya sampai di pulau Jeju. Keindahan di sekitar Pulau Jeju menyejukkan pikiran Luhan. Eomma memarkirkan mobilnya di depan Villa yang tidak jauh dari Pulau Jeju. Luhan dan Yoo Jung keluar dari mobil. Eomma membantu Yoo Jung keluar dari mobil. Serba susah hidup Yoo jung ini. Sebenarnya ia tidak ingin menyusahkan eomma nya. Ia ingin melakukannya sendiri. Tapi selalu tidak bisa.
            Sedangkan oppanya tak pernah sedikitpun berniat ingin membantunya dan melindunginya. Luhan memasuki villa terlebih dahulu. “Deer!!”eomma menghentikan langkahnya.
“Apa lagi eomma? Aku lelah.” Luhan kembali menolak.
“Kau mau meninggalkan barang-barang ini disini begitu saja?” ,
“Ini kan barang-barang Yoo Jung, kenapa harus aku?” ,
“Luuhaan..berhentilah berkata seperti itu!!” Eomma membentak Luhan.
“Ya..ya..ya..aku akan membawanya.” Luhan mengerucutkan bibirnya.
            Luhan berjalan menuju pintu Villa. Dan Yoo Jung sedang duduk di tepi pintu.
“Gomawoyo oppa, sudah membawakan tasku.” Ujar Yoo Jung.
“Kau hanya bisa mengucapkan terima kasih dan terima kasih. Kau tidak tau ini menjadi beban untukku? Kau selalu menyusahkanku.” Luhan membanting tas Yoo Jung begitu saja.
“Mianhae oppa.” Hanya itu yang diucapkan Yoo Jung dari bibir mungilnya itu.
            Yoo Jung masih bingung kenapa sikap Oppa nya tak pernah berubah sedikitpun. Ia sudah sering menghadapi oppanya seperti ini. Sudah sekian kalinya dan sudah berpuluh-puluh kalinya. Ia masih heran kenapa oppa nya belum bisa menerima keadaannya seperti ini.
“Yoo Jung-ah, kau tidur sekamar dengan oppamu ya. Dikamar itu nanti ada tempat tidur bertingkat. Kau tidur dibawah saja, dan oppamu tidur diatas.” Ujar eomma.
“Mwo? Sekamar dengan dia? Ayolah eomma , aku ingin kamar sendiri.” Pinta Luhan.
“Luhan-ah , perlukah aku memukulmu lagi?” eomma mengancam Luhan.
“Haah,, selalu saja seperti ini. Yoo Jung..Yoo Jung..dan Yoo Jung.” Kata Luhan dengan nada yang tinggi.
            Luhan memasuki kamar yang ditunjuk eomma nya tadi. Luhan masih tak habis pikir kenapa eomma memintanya sekamar dengan Yoo Jung. Yoo Jung datang memasuki kamar, diletakkannya tas nya lalu pergi lagi entah kemana. Sedangkan Luhan langsung tidur karena kelelahan.
            Ternyata Yoo Jung keluar ingin melepas kepenatannya dengan jalan-jalan.
“Yoo jung-ah, kau mau kemana?” tanya eomma.
“Ah.. aku hanya ingin jalan-jalan sebentar.” Ujar Yoo Jung
“Ajak oppamu sana.” Kata eomma.
“Mmm..biarkan aku sendiri. Ia sedang kelelahan.” Yoo Jung keluar dari villa meninggalkan eommanya.
            Yoo Jung berjalan keluar villa menghirup udara segar di sekitar Pulau Jeju dan tidak sengaja mendapati seorang namja yang bisa dibilang keadaannya hampir sama dengannya.
“Annyeong..” sapa Yoo Jung
“Annyeong.” Namja itu membalas sapaan Yoo Jung.
“Sedang berlibur juga?” tanya Yoo Jung.
“Anio, aku memang tinggal di sekitar sini. Kau kesini sendirian?” ,
“oh, aku pergi bersama eomma dan oppa ku. Mereka sedang istirahat di villa.” Ujar Yoo Jung.
“kau ingin jalan-jalan? Biar aku temani.” Tawar namja itu.
“Okay. Rumahmu dimana?” tanya Yoo Jung sambil menggerakkan kursi rodanya.
“Di rumah yang itu.” Kata namja itu sambil menunjuk rumah kecil berwarna biru muda dengan banyak bunga lily di depannya.
“Rumahmu tampak sepi. Oh ya, namamu siapa?” Yoo Jung menyadari dari tadi ia tidak tahu nama namja itu.
“Oh iya, Park Geon Tae imnida.”kata namja itu sambil mengulurkan tangannya.
“Yoo Jung imnida.”Yoo Jung membalas uluran tangan namja itu.
“Rumahku memang sepi, Yoo Jung-ah.” Ujar Geon Tae.
“Waeyo? Keluargamu sedang keluar kota?” tanya Yoo jung.
“Ani, aku memang tinggal sendiri.”,
“Bagaimana bisa? Kemana orang tuamu?”,
“Sudah kubilang, aku tinggal sendiri. Otomatis tidak ada orang tuaku disini. Kenapa kau menggunakan kursi roda?” ucap Geon Tae.
“sesuatu terjadi padaku. Kau sendiri?” Yoo jung kembali bertanya.
“Aku memang sudah seperti ini sejak aku lahir. Dan kecacatanku inilah yang membuat aku tinggal sendiri.”,
“maksudmu?” Yoo jung semakin tidak mengerti apa yang dimaksud oleh namja ini.
“Karena keadaanku yang seperti ini, tak ada satu pun keluarga yang peduli padaku bahkan mereka membenciku dan menyuruhku pergi jauh. Ya sekarang seperti inilah keadaanku.” Jelas Geon tae.
“Oh, sekarang aku mengerti. Bahkan aku juga dibenci oleh oppaku. “ tutur Yoo Jung.
“Kau beruntung hanya oppamu yang benci padamu. Yoo Jung-ah, kau harus tahu. Mereka membenci kita terkadang bukan karena keadaan kita, tapi ada alasan lain yang membuat mereka tak ingin mengingat masa lalu itu.” Ujar Geon Tae.
“Geon Tae-ah, lihatlah sebentar lagi akan hujan. Kita sebaiknya kembali.” Kata Yoo jung sambil menunjuk ke arah awan hitam.
“Ne, kau benar. Oh ya ini untukmu, aku membuatnya tadi. Aku pikir daripada tidak dimakan, lebih baik kuberi padamu. Aku akan pulang ke rumah.” Kata Geon Tae sambil memberikan sekotak Gimbap yang ia buat sebelum ia pergi keluar rumah.
“Gomawo, geon tae-ah. Apa tidak sebaiknya kau berteduh di villaku?”,
“Ah aniya, aku terlalu lelah. Aku ingin istirahat. Enjoy your holiday ya.” Geon Tae melambaikan tangannya ke arah Yoo Jung.
***
            Saat makan malam pun tiba. Luhan terlihat sibuk membolak-balikkan handphonenya sejak tadi. Sedangkan Yoo Jung bermain PSP. “Luhan-ah, apa yang kau lakukan sejak tadi?” tanya eomma.
“Apa wi-fi disini tidak aktif? Tidak ada jaringan.” Ternyata wi-fi lah yang membuat Luhan tidak tenang sejak tadi. “Kau tidak lihat diluar hujan? Mungkin saja wi-fi nya rusak.” Ujar eomma.
“Yoo jung-ah, kau pasti sudah lapar. Tunggu ya sebentar lagi makanannya akan siap.” Kata eomma yang memerhatikan Yoo Jung bermain game. Yoo Jung hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan eomma.
            “Ini sudah selesai.” Eomma membawa semangkok ramen. “Apa tidak ada sayuran disini eomma?” tanya Yoo Jung. “Mian, sayang. Disini hanya ada ramen. Eomma lupa membelinya tadi. Kajja, makanlah.”.
            Luhan berhenti dari aktivitasnya, tak dihiraukan lagi wi-fi yang ia butuhkan. Kini ia sangat lapar, dan ramen lah kini yang ia butuhkan. “Oh ya, tadi ada yang memberiku ini.” Ujar Yoo jung sambil menyuguhkan Gimbap pemberian Geon Tae. “Nuguya?” tanya eomma. “Namja seumuranku yang tinggal tidak jauh dari villa ini.” Kata Yoo jung.
“Ada yang ingin eomma beritahu kepada kalian berdua.” Kata-kata eomma membuat Luhan dan Yoo Jung mengernyitkan dahi mereka.
“Apa itu eomma?” tanya Luhan dengan pipi menggembung karena kepenuhan gimbap.
“Begini, Eomma akan memindahkan Yoo Jung ke sekolah yang sama denganmu.” Tutur eomma.
“Mwoo??” Luhan tersedak saat mendengar kalimat itu meluncur dari mulut eommanya.
“Waeyo, Deer?”,
“Uhukk..uhukk..hmm. Aku tidak mau satu sekolah dengannya!!” Bentak Luhan.
“Ya sudah, kalau begitu kau yang akan eomma keluarkan dari sekolah.” Kata eomma sambil menyuapkan ramen kemulutnya.
“Oh eomma, andwae. Kenapa kau melakukan itu padaku eomma?” Luhan tak berhenti merengek.
“Dia adikmu, Luhan-ah. Kau ini kenapa? Wajar saja ia satu sekolah denganmu.” Kata eomma.
“Sudahlah, aku lelah berdebat hanya karena adik perempuanku yang sangat disayang ini.” Luhan meninggalkan Yoo jung dan eomma di meja makan dan masuk ke kamarnya.
“Eomma, lihatlah oppa semakin benci padaku jika kau melakukan itu.” Ujar Yoo jung.
“Eomma akan tetap melakukan demi kebaikan kalian berdua.” Kata eomma seraya meninggalkan Yoo jung sendiri.
            Hari sudah semakin malam, jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Luhan dan eomma sudah tidur terlebih dahulu. Yoo jung masih duduk di sofa dengan selimutnya. Ia akan tidur diluar malam ini. Ia tidak ingin membuat oppanya semakin membencinya. Yoo jung terpikir apa yang dikatakan oleh Geon Tae tadi  sore. Kalau bukan karena keadaan lumpuhnya, berati oppanya mempunyai alasan tertentu kenapa ia begitu dibenci. Dan sekarang ada masalah baru, ia harus satu sekolah dengan oppanya.
           
‘Apakah keadaan orang sepertiku ini harus dibenci seperti halnya Geon Tae yang dibenci keluarganya?’  -Yoo Jung-

‘Tidak adakah hal yang lebih baik, dibandingkan harus satu sekolah dengan adikku?’ –Luhan-

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang akan Luhan lakukan saat Yoo jung berada di sekolah yang sama dengannya? Akankah Luhan menyembunyikan statusnya sebagai oppa Yoo jung?

-To be continue.-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar